Wednesday, June 18, 2008

"Sheikhul Islam " Dari kalangan Bukan Ahlus Sunnah

Saya terima tulisan ini dari seorang yang membuat posting ke blog ini sebagai reaksi kepada tulisan mufti Perlis memuji Ibn Taymiah.
Ibnu Taimiah Bukan Ahlu-Sunnah

Bagimana sikap dan komentar ulama-ulama Ahlusunnah terhadap Ibnu Taymiah dan berbagai penyimpangannya?
Apakah ia dari golongan Ahlusunnah atau bukan? Bagaimana kualiti akhlak dan kejujurannya dalam menyingkapi berbagai masalah agama?
Para ulama, khususnya mereka yang sezaman, atau yang hidup tidak lama dari masanya pasti lebih tahu tentang siapa sebenarnya Ibnu Taymiah itu.
Para ulama Ahlusunnah tentunya lebih mengerti siapa ulama yang masih berada dalam lingkaran keluarga besar Ahlusunnah siapa yang di luar keluarga besar Ahlusunnah.
Lalu apa kata mereka tentang Ibnu Taymiah?
Mari kita ikuti komentar-komentar mereka!
Ada pun, apakah dia dari Ahlusunah atau bukan? dan mengapakah Ibnu Hajar memujinya kalau dia bukan Ahlusunah. maka saya harap Anda tidak keberatan memperhatikan sedikit rangkuman komentar dan sikap ulama terhadapnya, sebagaimana di bawah ini:
Ibnu Taymiah Bukan dari Golongan Ahlusunnah wal Jama’ah!Ada sementara kalangan beranggapan bahwa Ibnu Taymiah adalah seorang tokoh Ahlusunnah, namun kenyataannya bahawa para ulama Ahlsunnah telah mengecamnya dan menganggapnya bukan bagian dari mereka. Ia adalah penyimpang dari mazhab Ahlusunnah.
Tidak diragukan bahawa pada mulanya Ibnu Taymiah bermazhab Hanbali, sebagaimana keluarganya; ayah dan nenk moyangnya, bahkan untuk beberapa waktu yang tidak sebentar, kepemimpinan mazhab Hanbali di tangan ayah-ayahnya. Akan tetapi kecenderungannya kepada faham ediologis hanabilah (kaum Hanbaliyah) yang sangat kental menjadikannya tidak sejalan dengan faham Asy’ariyah. Dan akibatnya, Ibnu Taymiah berhadapan dengan para ulama Asy’ariyah (yang merupakan agen resmi doktrin akidah Ahlusunnah).
Alih-alih berdalil kembali kepada ajaran para Salaf (sahabat dan tabi’în) Ibnu Taymiah mempropagandakan doktrin Hanbaliyah yang kental akan konsep-konsep tajsîm-nya. Kerananya, para ulama Ahlusunnah, bahkan sebahagian murid dan pengagumnya berbalik mengecam dan mengutuknya.
Abu Hayyân al Andalusi (W.745H), seperti dikatakan Ibnu Hajar, “Ia sangat mengagungkan Ibnu Taymiah dan memujinya dengan sebuah qashidah (bait-bait syair), kemudian ia menyimpang darinya dan menyebutnya dengan sebutan sangat buruk dalam kitab tafsirnya, dan ia menisbatkannya menyakini tajsîm (menggambarkan Allah sebagai berbentuk). Ada yang mengatakan bahwa ia (Abu Hayyân al Andalusi) membaca buku al Arsy (karya Ibnu Taymiah) maka darinya ia meyakini bahawa Ibnu Taymiah penganut aliran tajsîm.”
Az Zabidi berkata, “As Subki berkata, ‘dan kitab al Arsy adalah kitab karya yang paling buruk … dan ketika Abu Hayyân memperhatikannya, ia senantiasa melaknatinya sampai mati setelah sebelumnya ia mengagungkannya.’”
Demikian juga dengan adz Dzahabi, salah seorang santri Ibnu Taymiah, kendati ia pernah berguru kepadanya, namun hal itu tidak mencegahnya untuk menegur dan menasihatinya. Dalam sepucuk suratnya yang dikenal dengan nama Risalah Dzahabiah, ia menasihati dan menegur keras Ibnu Taymiah, di antaranya adz Dzahabi menulis, “Hai Anda, engkau telah banyak menelan racun para filsuf dan buku-buku karangan mereka berulang kali, dan disebabkan banyaknya pengaruh racun, badan menjadi ketagihan dan menguasainya…. (kemudian ia melanjutkan), “Duhai sialnya orang yang mengikutimu, sesungguhnya ia menyodorkan dirinya dalam kezindiqan dan keterlepasan dari agama…. Tidaklah majoriti pengikutmu melainkan orang-orang rendahan yang tak berkualiti, qa’îd marbûth, atau ringan akalnya, khafîful aqli, atau orang awam pembohong, ‘âmiyun kadzdzâb, dungu pikirannya, balîdudz dzihni, atau orang terasing yang terdiam, kuat makarnya, atau penyerap yang saleh tetapi tidak memiliki pemahaman. Jika engkau tidak percaya apa yang aku katakan, maka periksalah mereka dan takarlah mereka dengan penuh keadilan…. Sampai bila kamu memuja-muja omonganmu sendiri dengan pujian yang tidak engkau berikan bahkan kepada hadis-hadis Bukhrai & Muslim, andai hadis kedua selamat dari kecamannya, bahkan setiap saat engkau menyerangnya dengan mendha’ifkannya dan menggugurkannya dengan takwil atau pengingkaran. Tidaklah telah tiba saatnya engkau sedar? Tidaklah tiba waktunya engkau bertaubat dan kembali… usiamu telah mencapai lebih dari tujuh puluh tahun, masa berangkat (kematian) telah dekat… benar, demi Allah aku tidak pernah tahu engkau ini ingat/menyebut-nyebut kematian… bahkan engkau mengejek-ngejek orang yang menyebut-nyebut kematian… akupun tidak yakin engkau mahu menerima ucapanku dan memperhatikan nasihatku…. “
Ibnu Hajar sendiri menuturkan, ketika menyebut biografi al Yâfi’i dalam kitab ad Durar al Kâminah, “Ia (al Yâfi’i) mempunyai pembicaraan dalam mengecam Ibnu Taymiah.”
Pernyataan al Yâfi’I adalah sebagai berikut: Pada tahun 705 H terjadi kekacauan akibat kesesatan pandangan-pandangan Ibnu Taymiah, sehingga para pembesar ulama Ahlusunah bangkit mengadilinya dan berakhir dengan dihumbankannya ia ke dalam penjara. Di antara kecaman para ulama atasnya ialah pandangannya yang mengatakan bahawa Allah berada di atas singgasana-Nya dengan erti benar-benar duduk sebagaimana layaknya duduknya hamba, dan Allah berbicara dengan kata-kata dan dengan suara sebagaimana manusia. Oleh kerananya, diumumkan di kota Damaskus, bahawa barang siapa meyakini akidah seperti Ibnu Taymiah maka ia halal harta dan nyawa/darahnya. … Ia (Ibnu Taymiah) banyak memiliki buku karangan lebih dari seratus jilid, dan ia memiliki pandangan- pandangan yang aneh dan diingkari oleh para ulama dan ia dipenjarakan kerananya, pandangan- pandangan itu bertentangan dengan Ahlusunah , di antara yang paling keji adalah larangannya untuk menziarahi makam suci Nabi saw.
Dan juga kecamannya terhadap para tokoh sufi seperti Hujjatul Islam Abu Hamid al Ghazali, guru besar Imam Abul Qasim al Qusyairi, Syeikh Ibnu Irrîf, Syeikh Abul Hasan asy Syadzili dan banyak kalangan pembesar wali-wali Allah dan hamba-hamba pilihan yang baik….,
Demikian juga akidahnya tentang bersemayamnya Allah di sudut tertentu dan pandangannya yang batil dalam masalah itu dan lain-lain dari akidahnya seperti sudah ma’ruf dinukil darinya … “
Dalam kitabnya Daf’u Syubahi Man Syabbaha, Syeikh Taqiyyuddin Abu Bakar al Hishni ad Dimasyqi asy Syafi’i mengkritik dengan tajam Ibnu Taymiah, yang katanya hanya berpura-pura mengikuti mazhab Hanbali dengan tujuan melariskan pandangan-pandangan sesatnya … Setelah digelar majlis pengadilan untuk mengadili Ibnu Taymiah, para ulama besar Ahlusunnah, diantaranya Shafiyyuddin al Hindi, Syeikh Kamaluddin az Zamlakani Syeikh Syamsuddin Adnan asy Syafi’i, dan berakhir dengan dihumbankannya Ibnu Taymiah ke dalam penjara, dan setelah itu pengawasan diperketat. Qadhi mazhab Maliki telah menegaskan, bahawa Ibnu Taymiah harus dihukum mati atau paling tidak harus diperketatkan penjagaannya dalam penjara, atau langsung dibunuh, sebab –masih menurut Qadhi mazhab Maliki- telah terbukti kekafirannya!
Demikian pula dengan Allamah Burhanuddin al Fizari telah mengajukan gugatan setebal empat puluh halaman tentang akidah Ibnu Taymiah, dan ia telah menfatwakan akan kekafiran Ibnu Taymiah. Fatwa itu disetujui oleh Syeikh Syihabuddin Ibnu Jhbal asy Syafi’i. di bawahnya juga ditandatangani oleh Qadhi mazhab Maliki dan banyak ulama lain. Dan telah terjadi kesepakatan akan kesesatannya, kebid’ahan dan kezindiqannya…
Kemudian beliau melanjutkan, “Kemudian fatwa-fatwa itu dikirimkan kepada Sultan, setelahnya Sultan mengumpulkan para qadhi (jaksa/ulama), setelah itu Qadhi Badruddin Ibn Jama’ah menuliskan di bawah lembaran fatwa tersebut, ‘Siapa yang meyakini pendapat seperti ini ( seperti pendapat Ibnu Taymiah) maka ia adalah dhâllun mudhillun (sesat dan menyesatkan). Keputusan itu disetujui oleh qadhi mazhab Hanafi, maka dari itu kekafirannya adalah hal yang telah disepakati… “
Ibnu Hajar, yang kata Anda memuji Ibnu Taymiah dalam kitab ad Durar al Kâminah, telah membawa komentar dan pandangan para ulama tentang Ibnu Taymiah, di antaranya ia mengatakan, “Ia merasa dirinya sebagai seorang mujtahid, maka ia membantah para ulama baik yang kecil mahupun yang besar, yang telah lampau mahupun yang baru. Sampai-sampai Umar-pun ia salahkan. Ketika sampai berita itu kepada Syeikh Ibrahim ar Raqiy ia mengecamnya, dan ia pun meminta maaf atas sikapnya dan memohon ampun.
Tentang Ali, kata Ibnu Taymiah, ia salah dalam tujuh belas kasus, di mana Ali menentang nash al Qur’an…Tentang siapa para ulama yang dikecam oleh Ibnu Taymiah, Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Taymiah telah berkata kasar tentang Sibawaih, maka Abu Hayyân memusuhinya…
Ia mencaci maki Imam Ghazali, sampai-sampai terjadi kekacauan, hampir-hampir ia dibunuh!
Ia juga mengecam Ibnu Arabi dan ketika sampai berita kepada Syeikh Nashr al Munjabi, ia melayangkan surat teguran keras kepada Ibnu Taymiah.
Tentang akidah Ibnu Taymiah, Ibnu Hajar mengatakan, “hadis tentang nuzûl, ia mengatakan bahwa Allah turun dari langit seperti turunku sekarang ini dari tangga mimbar.. Ia menentang orang yang bertawassul dan beristighasah kepada Nabi saw.
Pada tarikh 17 bulan Rabi’ul Awal tahun 707H ia dipimpin untuk bertaubat dari akidah tajsîm-nya …Setelahnya, Ibnu Hajar merangkum komentar para ulama tentang Ibnu Taymiah, “Ibnu az Zamlakani dan Abu Hayyân menyimpang darinya (sebelumnya mereka mengagungkannya_pen).
Di antara para ulama ada yang menggolongkannya sebagai peyakin tajsîm… ada yang menggolongkannya sebagai zindiq (kafir), ada yang menggolongkannya sebagai orang munafik, sebab ucapannya tentang Ali seperti telah lewat, dan dikeranakan ucapannya bahawa Ali selalu terhina (tidak ditolong Allah) ke mana pun ia menuju. Dan beliau berulang kali berusaha merebut kekhalifahan namun tidak berhasil. Ali berperang hanya kerana ingin berkuasa bukan demi agama!
Dalam kitab Lisân al Mizân, ketika menyebut biografi Allamah al Hilli, Ibnu Hajar juga menuliskan demikian, “Ia (Allamah al Hilli) menulis buku tentang keutamaan Ali ra., buku tersebut telah dibantah oleh Taqiyyuddin Ibnu Taymiah dalam sebuah kitab besar. Syeikh Taqiyyuddin as Subki telah menyebut buku itu dalam bait-bait syairnya… dalam akhir bait syair itu ia mengecam akidah Ibnu Taymiah.
Ibnu Hajar berkata, “Aku telah menelaah buku tersebut, aku temukan seperti yang dikatakan as Subki dalam al Istîfâ’, tetapi ia (Ibnu Taymiah) sangat subjektif dalam menolak hadis-hadis yang dikemukakan Ibnu al Muthahhar (Allamah al Hilli)… ia banyak menolak hadis-hadis yang jiyâd (bagus) ….
Betapa sering ia, demi melemahkan ucapan Allamah al Hilli, melecehkan Ali ra.. lembaran ini tidak cukup untuk menjelaskan hal itu berikut contoh-contohnya.
Dan dalam Fath al Bâri, Ibnu Hajar juga memiliki komentar tentang Ibnu Taymiah, baik rasanya Anda rujuk.Dan di akhir tulisan ini, saya ingin menyebutkan komentar Ibnu Hajar al Haitami ketika ditanya tentang Ibnu Taymiah:
إبنُ تيمية عبدٌ خذلَهُ اللهُ و أضَلَّهُ و أعماهُ و أَصَمَّهُ و أذلَّهُ. و بذلكَ صرَّحَ الأئمةُ الين بيَّنُوا فسادَ أحوالِهِ و كِذْبَ أقوالِهِز و من أراد ذلكَ فعليه بِمُطالَعَةِ كلامِ الإمام الْمُجتهد المُتَّفق على إمامتِهِ و جلالَتِهِ و بلوغه مرتبةَ الإجتهاد، أبي الحسن السبكيْ ولدِهِ التاج و الإمام العز إبن جماعَة، و أهلُ عصرِهِ و غيرهم من الشافعية و المالكية و الحنفية. و لم يقتصر أعتراضه على مًتأخري الصوفية، بل اعترض على مثل عمر بن الخطاب و علي بن أبي طالب رضي الله عنهما……و أياكَ أن تصغِيْ إلى ما في كتب إبن تيمية و تلميذه إبن القيم الجوزية و غيرهما مِمن اتخذ إلهَهُ هواه و أضلَهُ اللهُ على علمٍ و ختم على سمعه و قلبه و جعل على بصرِهِ غشاوَةً، فمن يهديه مِنْ بعد الله… و كيف تجاوز هؤلاء المُلْحِدون الحدودَ و تعدَّوا الرسومَ و خرقوا سياجَ الشريعة و الحقيقة، فظنوا بذلك أنهم على هُدًى مِن ربهم، و ليسوا كذلك بل هم على أسوأ ضلالٍ و أقبحِ خصالٍ و أبلغ المقتِ و الخسران و أنهى الكذب و البهتان… فخذل الله مُتَّبعيهِم و طهَر الأرضَ م أمثالهِم.
Ibnu Taymiah adalah hamba yang telah ditelantarkan Allah, disesatkan, dibutakan, ditulikan dan dihinakan. Demikian dijelaskan para imam yang telah membongkar keburukan keadaannya dan kepalsuan ucapannya. Siapa yang mengetahui hal itu hendaknya ia menelaah komentar Imam Mujtahid yang telah disepakati akan ketokohan dan keagungannya serta sampainya ke derajat ijtihad; Abu al hasan as Subki dan putranya, serta Imam al Izz ibn Jama’ah, demikian pula komentar mereka yang sezaman dan lainnya dari kalangan ulama mazhab Syafi’ah, Malikiah dan Hanafiah. Ibnu Taymiah tidak terbatas hanya mengkritik para pemuka sufi mutaakhkhirîn, tetapi ia juga mengkritik Umar ibn al Khaththab dan Ali ibn Abi Thalib ra….
Hati-hatilah kamu dari menelaah buku-buku Ibnu Taymiah dan muridnya; Ibnu al Qayyim al Jawziah dan selain keduanya dari orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan dan disesatkan Allah kendati ia pandai, serta Ia tutup telinga dan hatinya serta Ia jadikan atas penglihatannya penutup, lalu siapakah yang akan memberi hidayah selain Allah… bagaimana kaum atheis itu menerobos batas dan melampau garis serta menerjang pagar syari’ah dan hakikat, mereka mengira dengan itu mereka berada di atas hidayah dari Tuhan mereka. Tidak demikian! Mereka berada d atas kesesatan paling jelek, keadaan paling buruk, puncak murka dan kebohongan dan kepalsuan paling puncak… Allah menghinakan para pengikut mereka dan membersihkan permukaan bumi dari orang-orang seperti mereka.”
Selain itu, Anda dapat menemukan daftar panjang mana-mana ulama besar Ahlussunah dari berbagai mazhab fikih telah mengecam dan membantah keras kesesatan-kesesatan Ibnu Taymiah yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu dalam kesempatan ini.
Jadi jelaslah dari paparan sekilas di atas dapat dimengerti bahawa Ibnu Taymiah bukan dari Ahlusunnah!!! Ia adalah musuh bebuyutan akidah Ahlusunah wal Jama’ah…. Perbezaan pandangan, ushul dan prinsip akidahnya bertolak belakang dari prinsip akidah Ahlusunnah!!
Ia seorang mujassim… musyabbih, pengingkar ziarah makan suci Nabi Muhammad saw. … Pengecam tawassul dan istighâsh dan menganggapnya sebagai bid’ah dan perbuatan sesat… Pembenci nyata keluarga suci Nabi; Ali, Fatimah, Hasan, Husain …. Pembenci kaum sufi dan para waliyullah…. Ia Bapak ektrimisme eksternal di kalangan umat Islam dengan doktrin-doktrin kekerasan yang ia sebarkan di lembaran-lembaran buku-bukunya yang nyata!
Dan yang pasti Ibnu Taymiah hanya membawa kekacauan di tengah-tengah umat Islam dengan pandangan-pandangan sesatnya yang sekarang diadopsi dan sedang dikembangkan dengan gencar kaum Arab Baduwi di Timur Tengah dan jongos-jongos mereka di tanah air tercinta!!!

8 comments:

Anonymous said...

Istighfar banyak-banyak wahai Hadharist. Hari ini saudara cuba mengatakan Ibnu Taymiah bukan ahlussunnah. Esok mungkin saudara akan kata pulak Ibnu Qaiyim Al Jauzi bukan ahlussunnah. Bagaimana pula dengan Imam AlGhazali.
Saudara rasa saudara suka mentelaah buku-buku syiah.

Anonymous said...

Salam

saudara purehadharist bile nk kuar buku.Saya pon nk mentelaah buku saudara..

PUREHADHARIST said...

Salam semua,

Sebenarnya umat Islam masih dalam budaya mengikut sahaja tanpa mengkaji ...taqlid..dan merasa takut jikalau menemui sesuatu yang lain daripada hasil telaah atau ijtihad yang berbeza dari pendahulu kita (ulama terdahulu)...sayang..kerana itulah Islam tidak menemui kemajuan...Kalau ada yang kita panggil mujadid yang mengatakan jangan bertaklid..tetapi pada realitinya masih banyak orang pengikut mujadid itu masih mengikuti budaya taqlid..itupun pada cerita sejarah...

Di depan kita ada buku, dan sejarah...setiap hari dan waktu kita adalah untuk mentelaahnya, mempelajarinya...kalau kita dapati sesuatu yang ada dalam sejarah sesuatu yang salah maka kita wajib mengatakan kesalahan itu...kalau kita mengatakan bahawa apa yang dilakukan pendahulu kita salah maka wajib kita katakan itu salah...siapa pun dia....kerana hari ini adalah hari kita....

Baca kembali nasihat Mufti Perlis...kenapa kita harus takut..kalau kita dapat buktikan secara ilmiah tentang kesalahan yang ada... kita tidak boleh bertaklid...jangan taklid ketika kita dapat melihat dengan mata yang jelas dan membuktikannya secara ilmiah...untuk itu..saya sarankan baca dengan baik...dan lawan hujah dengan hujah...bukan hanya berperasaan dan dzhan (prasangka), sesungguhnya dzhan tidak ada ertinya..dan sesungguhnya sebahagian dzhan termasuk dosa...maka buktikanlah sekalipun harus berbeza...ini dunia kita..hari ini dan masa depan... tulisan tentang Ibn Taimiyyah bukan Ahlus Sunah saya dapat dari orang lain bukan tulisan saya..ia Cuma bahan untuk dikaji…baca betul-betul…jangan emosi..

hisyam said...

Slm saudara pure-hadharist....

Al-Imam Ibn Salah telah menyatakan di dalam kitabnya Ulum Hadith:

Entah berapa ramai di kalangan ulama yang telahpun melangkah ke dalam syurga sejak seratus atau dua ratus tahun yang lalu, sedangkan kamu mengumpat mereka.

Well, honestly speaking..
Ya, saya memang kagum dengan tulisan saudara yang mampu menulis kecaman-kecaman terhadap Syekhul Islam melalui kaedah ilmiah. Namun ini tidak cukup untuk mempengaruhi saya bahawa Ibn Taimiyah itu bukan daripada kalangan ahli sunnah wal jamaah.

Bagi saya ini belum cukup untuk membuktikan bahawa Ibn Taimiyah itu sesat. Sepertimana yang saudara ketahui, salah satu murid kepada Ibn Taimiyah yang cukup cinta akan gurunya ialah Imam Ibn Kathir.

Sehinggakan Imam Ibn Kathir di dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah yang mengandungi biografi lengkap Ibn Taimiyah telah mempertahankan gurunya dengan menyatakan bahawa peristiwa di mana Ibn Taimiyah dipenjarakan adalah angkara mereka yang cemburu akan populariti Ibn Taimiyah yang memperjuangkan hak dan menolak kebatilan di kalangan masyarakat.

Imam Ibn Kathir yang cukup famous dengan kitab tafsirnya yang dinamakan sebagai Tafsir Ibn Kathir begitu mencintai akan gurunya Ibn Taimiyah.

Oleh itu, jika saudara merasakan ini agak relevan, saya cabar saudara mencari kesalahan yang terdapat di dalam Tafsir Ibn Kathir yang seringkali menjadi rujukan dalam ilmu tafsir.

Maafkan saya sekiranya saya agak kurang sopan dengan berkata begini, tetapi pada pandangan saya yang tidak seberapa ini, saya lebih suka sekiranya fikiran saudara yang tajam ini digunakan untuk mencari jalan penyelesaian umat, bukannya digunakan untuk mengelirukan umat yang sudah cukup keliru dengan mencerca seorang imam yang saya kira cukup hebat dalam perjuangannya.

May Allah bless us.
Waallahua'lam.

Anonymous said...

Hisyam dan 2 org anonymous di atas adalah org yg telah dibutakan hati akan kebenaran.

Tulisan pure-hadarist adalah bertujuan menyelamatkan ummah dari kesesatan penyesat agama. Kekeliruan yg dilakukan oleh penyesat agama telah meresap dlm hati sebahagian umat islam termasuk hisyam sendiri.

By: Anti 6-virus

PUREHADHARIST said...

Salam Akhi Hisyam dan pencari kebenaran,

Mengambil pendapat Dr Maza (Mufti Perlis) bahawa Islam adalah agama yang bina di atas hujah dan dalil. kemudian meneruskan dengan menyatakan: Apa saja pendapat yang menggunakan nama Islam, namun tidak berpaksi hujah dan dalil dari Al-Quran dan As sunah, maka ianya bukan agama Islam. Di sini jelas bagaimana seorang muslim memerlukan hujah dan dalil untuk dapat berpegang pada Islam. tanpa keduanya maka pendapat keIslamannya masih perlu dipertanyakan.

Sekarang kita sedang berada di sekitar dua pendapat iaitu minimumnya pro dan kontra berkaitan Ibn Taymiah. Untuk itu perlu adanya dalil untuk pro dan kontra. Tentunya dalil bukan dengan bertaklid. Jikalau kita sekarang mahu mengikut ulama untuk pro dan kontra terhadap seseorang, hatta ulama sekalipun dengan bertaklid, maka kita sudah sebenarnya meninggalkan kaedah di atas iaitu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah...Maka itu kita perlu mempermasalahkan pendapat kita itu. Maka berilah dalil terhadap maudhu' yang kita bahas dan bukan lari pada pembahasan lain. Haatu burhanakum inkuntum shadiqin (berikan dalil/burhanmu kalau kamu benar) begitu kata Quran..dan bukan mengajak orang pergi kepermasalahan lain dan berpendapat dengan yang lain. Sekarang objek pembahasan adalah Ibn Taymiah bukan Ibnu Katsir. Maka berikan dalil untuk membantah dalil yang diberikan, bukan membawa pada masalah lain...( disini membuat saya tersenyum)...

Jangan takut, saya tidak akan termakan dengan bahasa keras, untuk saya, semua dalam rangka untuk mempertahankan pendapat....tetapi dengan dalil...bukan yang lain.

Tentang saudara belum berubah, tentu ada alasan untuk itu, kalau tidak maka sebenarnya telah keluar dari kaedah pertama yang ditulis oleh Dr Maza. Itu pun kalau kita sepakat dengan pendapat dan pandanan beliau. Kalau ada, maka berikan dail itu?!.

Tentang keinginan untuk membahas Ibn Katsir, kita akan bahas lain waktu, sekarang kita bahas hingga akhir Ibn Taymiyah, jadi jangan lari dulu ke maudhu lain..ini tidak ilmiah namanya...

Tentang pendapat Ibn Salah, saya sependapat dengan beliau, tetapi tidak ada dalil dari pendapat itu bahawa objek pembahasan kita -Ibn Taymiah termasuk didalamnya. Kerana secara ilmiah kita masih mempermasalahkannya, jadi tidak ada yang dapat memastikan bahawa Ibn Taymiyah ada dalam surga sekarang.
Yang pasti di sini tidak ada seorang pun sudah menjadi Tuhan sehingga boleh menentukan bahawa si fulan sudah dimasukkan ke dalam surga. Apatah lagi kita sekarang sedang berbeza pendapat tentang hal tersebut. maka untuk memastikan kebenaran tersebut kita perlukan dalil lain.

Ingat akhi, dulu kita sudah bahas...ulama adalah jama' dari alim. dan kita sekarang sedang berbeza pendapat tentang seorang alim. Maka tentunya tidak mudah untuk memasukkannya ke dalam nilai umum kerana objek (maudhu') khususnya masih dipermasalahkan. maka alim -Ibn Taymiyah- yang sedang dalam masalah masih tidak dapat dimasukkan ke dalam nilai umum ulama yang dikatakan oleh Ibn Salah kerana dalil Ibn Salah bersifat umum, sedang permasalahan kita adalah khusus. Untuk itu kita selesaikan dulu masalah ini dengan sempurna, dengan dalil yang kuat sehingga kita dapat membuktikan bahawa dia masuk dalam surga, dan bukan dengan dakwaan umum.

Jangan takut, sekali lagi, landasan kita adalah dalil dan hujah, bukan perasaan sekalipun ianya mustahak pada tempatnya.tetapi dengan dalil kita akan menenangkan perasaan. jadi berikanlah dalil...

Perbezaan pendapat adalah masalah biasa, kerana di dalam Islam adanya keterbukaan dalam berfikir, dan juga adanya pola berfikir yang berbeza serta sandaran berfikir yang berbeza. jadi setiap orang dapat mengutarakan pendapatnya, selama dalam kaedah yang dibenarkan...maka untuk itulah kita perlu adanya pembuktian...maka saya minta pada semua, untuk berpendapat dengan dalil dalam membantah tulisan di atas...buktikan tulisan di atas salah dengan dalil, maka itulah nikmat-nilai kebenaran- kita semua. kalau tidak, maka pendapat di atas masih harus diakui sebagai benar kerana tidak adanya dalil yang menyalahkannya...ini nilai ilmiah...

Anonymous said...

salam....
menyelesai masalah dgn burhan itu adlh jln terbaik menghindari dari hawa nafsu...
dan lebih baik kita fokuskan berbahasan pd pendapat dan ajarannya bukan peribadi seseorng.

Anonymous said...

memang baik...kita kena melihat ajarannya dan bukan orangnya. oleh karena itu kita kena tengok bagaimana dia berdalil dan kemudiankita fikirkan dalil yang diberikannya...

jadi tidak semua pandangannya kita tolak atau terima begitu sahaja...

sebagaimana pandangan ibn taimiyah tentang "tajasum" (tuhan memiliki jism). mungkin kita perlu fikirkan. karena beliau mengakui -sengaja atau tidak- bahwa Allah berdasarkan ibn taimiyah memiliki tempat, yaitu Dia memiliki sifat jism.

untuk inilah kita perlu berfikir sama sama pedangan beliau tentang tauhid dan syirik...
betapa banyak ulama katanya hendak membawa kepada tauhid tapi terjatuh dalam kegelapan syirik...untuk itu kita perlu lihat dalil dan burhanya bukan siapa yangmendawakan tauhid atau syirik...

semoga berhasil..insyaallah

Popular Posts